Sepotong Arca Yang Mengecoh

REVIEW /  Anang Zakaria / dimuat dalam rubrik Seni, Koran Tempo, 25 Juni 2015

Seniman Timoteus Anggawan Kusno menyuguhkan narasi fiksi tentang Tugu Gono Manggala Sangid dalam kemasan seni instalasi.

Di kamar berukuran sekitar 7 meter persegi, Daliho Kusbirin berkantor. Sebuah meja dengan mesin ketik, setumpuk kertas, dan tape perekam diletakan tepat di tengah ruangan. Satu kursi, tempat Direktur Pusat Studi Tanah Runcuk itu biasa duduk, ada di baliknya.

Di sebelah meja, selembar papan bergambar peta Indonesia tersandar di dinding dengan penuh tempelan kliping koran. Dua peti kayu dibiarkan tertumpuk di bawah tangga menuju lantai dua. Masing-masing berukuran sekitar 1 meter kubik.

Di peti kayu itu konon tersimpan potongan Tugu Gono Manggala Sangid. Berupa arca berbentuk manusia mengenakan mahkota raja dengan tangan menyatu di depan dada, dan berdiri di atas tumpukan puluhan tengkorak. Sayangnya, kotak itu haram dibuka. Temuan arkeologis Henry Irving (1813) itu terhambat masalah administratif dan belum bisa dipamerkan kepada publik.

Ruang kerja Daliho dan isinya situ sebenarnya sebuah seni instalasi berjudul Anatomy of The (Lost) Memory – Collective Remembering Through Institutional Art. Dibuat oleh Timoteus Anggawan Kusno, karya itu merupakan bagian dari “Liminal”, proyek seni yang diikuti delapoan seniman dari beragam disiplin ilmu di Rumah Seni Cemeti Yogyakarta, 4-27 Juni 2015. “Karya ini adalah cerita fiksi sejarah dalam kemasan seni instalasi,” kata seniman yang akrab disapa Dalijo itu.

Fiksi? Ya, seluruh teks, narasi, dan artefak tentang Gono Manggolo Sangid adalah rekaan. Kliping koran, foto hitam putih bergambar tugu, tulang, pecahan gerabah, serta dokumen penelitian, semua terlihat asli. Untuk memperkuat narasi fiksinya, Dalijo membuat makalah hasil penelitian yang ditulis oleh seorang bernama Daliho. Di sampul makalah setebal 16 halaman itu tertulis CE ME TI berhasil meminjam artefak patung dari The British Museums dengan rekomendasi dari Troppenmuseum.

Seniman 26 tahun lulusan Ilmu Komunikasi Gadjah Mada pada 2011 ini memastikan makalah itu cuma rekaan. Daliho sebetulnya tokoh fiksi. Nama itu berasal dari keseleo lidah seorang kawannya, orang Spanyol, yang memanggil “Dalijo” menjadi “Daliho”.

“Kalau Anda jeli, tulisan (British) Museums yang benar itu tanpa huruf ’s’, dan huruf ‘p’ pada Troppenmuseum pun seharusnya hanya satu,” kata dia kepada Tempo.

Bagaimana dengan pengunjung lain? Mungkin mereka juga terkecoh. Tapi, “Bukan itu tujuan karya ini,” kata dia. Dalijo yang tengah merampungkan pendidikan S-2 untuk Ilmu Religi dan Budaya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mengatakan, lewat karya ini ia ingin mengajak publik untuk mengenang kembali berbagai peristiwa kekerasan yang terus berulang sepanjang sejarah di Indonesia. Tugu Gono Manggala Sangid dihadirkan dengan latar belakang masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles (1811-1816). Raffles dikenal banyak melakukan eksplorasi arkeologis di Nusantara. Dalam atmosfer sejarah semacam inilah Dalijo menyusupkan temuan arkeologis fiksi itu. “Ini menjadi semacam pintu masuk untuk menggali ingatan kolektif publik,” kata dia.

Secara harafiah, Gono Manggala Sangid bisa dimaknai sebagai monumen besar yang menebarkan bau sangit (aroma tak sedap menusuk hidung). Dalam foto hitam-putih rekaan yang terpajang di “ruang kerja Daliho”, tugu itu digambarkan mejeng di banyak daerah di Indonesia, dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Ini sebenarnya simbol peristiwa kekerasan yang terjadi di penjuru Tanah Air. Daerah tempat terjadinya Gono Manggala Sangid itu lalu digambarkan dalam peta. Masing-masing ditandai dengan tusukan jarum dan dihubungkan dengan benang. Pada akhirnya tarikan benang itu berpusat di satu titik, Batavia. Kini kota itu bernama Jakarta.

Dalijo mengatakan karyanya dibangun dari imajinasi antara yang fiktif dan faktural. Keduanya dibiarkan berkelindan keluar masuk saling mempengaruhi.

Di Indonesia, mungkin tak banyak seniman menyuguhkan narasi fiksi dalam kemasan seni instalasi. Tapi di luar negeri banyak. Salah satunya, seniman asal Lebanon Walid Raad dengan karyanya, The Atlas Group.

Dalijo tak hanuya membangun catatan dalam artefaknya. Dalam pembukaan pamerannya, 4 Juni 2015 lalu, ia juga menggelar performance. Dramawan Jamaludin Latif digandeng untuk membaca catatan yang ia buat. Judulnya Kisah-kisah dari Dalam Tanah yang berisi potongan sejarah lisan yang dialami korban kekerasan Tanah Air. Beberapa kutipannya antara lain: Ibu lebih dulu tertembak! Aku merangkak meraih adikku. Tangan lain menyelamatkannya, memisahkan kami. Aku tak pernah bertemu lagi dengannya sejak saat itu.

Baik Dalijo maupun Jamaludin tak membeberkan latar belakang peristiwa yang memunculkan kutipan-kutipan itu. Tampaknya mereka sengaja memberikan kesempatan pengunjung menggali sejarah kekerasan sesuai dengan ingatan masing-masing.