Antara “Cosplay” dan Baju Karung Goni

REVIEW / Dimas W Nugraha / dimuat dalam Kompas Minggu, 2 April 2017

Baju dan celana dari karung goni seperti mengambang di tengah ruang. Setelan pakaian itu dikenakan pada kerangka yang bentuknya seperti tubuh. Posisinya merebah, lalu melayang-layang. Di bawahnya ada papan putih dengan lilin-lilin berjajar. Tidak menyaa, tapi lelehannya menetes di lantai.

Seni instalasi karya Timoteus Anggawan Kusno itu menjadi bagian dari pameran Meretas Ingatan Tentangmu: 75 Tahun Setelah Pendudukan Jepang di Lobi Perpustakaan Pusat Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang digelar sejak 8 Maret hingga 8 April.

Karung goni itu merupakan benda bersejarah yang diperoleh peneliti G Budi Subanar SJ dari seorang kolektor. Karung goni bekas itu menjadi pakaian rakya pada era penjajahan Jepang di negeri ini pada 1942-1945. Ia menjadi monumen sejarah yang ikut mengingatkan suatu masa kala rakyat menderita.

Busana karung goni itu bersanding dengan obyek yang mewakili imaji Jepang dalam berbagai perspektif pengetahuan masyarakat di Indonesia kini. Salah satunya adalah cosplay atau costume play. Di ruang pamer ada katana, pedang panjang yang pernah digunakan prajurit Pembela Tanah Air. Namun, di sana ada pula edang raksasa milik Jecht, salah satu tokoh dalam serial permainan Final Fantasy X. 

Begitulah sejarah tentang pendudukan Jepang pada masa lalu, bersanding dengan budaya Jepang di Indonesia hari ini. Pameran ini memang dimaksud untuk mengolah kembali ingatan akan hubungan Jepang-Indonesia, rivalitasnya, sekaligus kerjasama, antarkedua bangsa.

 

Terputus

Peneliti G Budi Subanar, Benardi Darumukti, dan seniman visual Timoteus Anggawan Kusno berkolaborasi dalam mewujudkan pameran ini. Hasil penelusuran Budi Subanar tentang pendudukan Jepang di Tanah Air serta hasil penelitian Benardi soal budaya popler Jepang divisualisasikan oleh Anggawan Kusno.

“Ada sebuah kaitan yang terputus di antara ingatan bangsa Indonesia yang hidup pada masa pendudukan Jepang dan bangsa Indonesia yang tumbuh jauh setelah pendudukan Jepang berakhir. Pameran ini adalah benang merah yang menggabungkan kedua ingatan itu,” kata Subanar.

Dalam pameran, tokoh sejarah Supriyadi, perwira Batalyo Kesatuan Pembela Tanah Air (Peta) wilayah blitar, dihadirkan melalui manuskrip tua. Manuskrip itu merupakan catatan Soekandar, ajudan Batalyon Kesatuan Peta Wilayah Blitar. Dalam catatan ini, tergambar sosok Supriyadi yang tak gentar membela kaum tertindas meski mengalami keterbatasan pasukan dan alat perang.

Jepang hari ini dalam perspektif kaum muda dihadirkan lewat penelitian Benardi tentang cosplay atau kostum dalam film. Ia ingin memberikan sudut pandang tentang Jepang yang dicintai publik lewat budaya kontemporer.

 

Terpapar Jepang

Budaya pop Jepang, termasuk cosplay, menurut Benardi, telah menjadi ritus baru di kota-kota besar Indonesia. Budaya kontemporer Jepang memapar masyarakat Indonesia, bahkan duni, mulai dari anime (animasi Jepang), dorama (drama televisi Jepang), hingga tokuatsu (film laga Jepang). Di sisi lain, budaya konsumsi yang menghinggapi pemirsa televisi Indonesia datang atas pegaruh dari Jepang.

“Politik perubahan identitas Jepang dalam sudut pandang masyarakat Indonesia jarang dibahas dalam diskusi-diskusi. Pameran ini ingin menampilkan itu karena setiap orang bervariasi memaknai Jepang bergantung pada pengetahuan yang memapar mereka”, kata Benardi.

Pakaian dari karung goni bekas itu mungkin terlupakan hari ini. Ia menjadi artefak historikal yang bisa bicara banyak.